Apakah benar ada cinta sejadi itu ? Apakah pendamping kita saat ini adalah cinta sejati kita ?

Permasalahan cinta sejati tidak akan pernah selesai, jika kita tidak mengakhirinya. Seperti chicken & egg, mana yang duluan dan mana yang belakangan seakan menjadi tidak jelas. Seperti maze, kita akan berputar-putar di satu bidang, tanpa tahu kemana awal dan akhirnya.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi ada ketimuran, yang mengutamakan rasa malu, maka tentu saja kita harus berpendapat bahwa pendamping kita saat ini adalah cinta sejati kita. Namun bagi kalangan yang berpikiran lebih moderat, akan menyebut itu adalah pemikiran yang normatif, karena pendamping kita saat ini bisa dari mana saja sedangkan cinta sejati kita hanya dari satu sumber.

Kembali pada konsep penciptaan alam semesta, semua diciptakan berpasang-pasangan, Adam dan Hawa, diciptakan berpasang-pasangan. Satu untuk satu. Demikian yang terjadi di alam semesta, dalam sebuah tatanan keseimbangan.

Namun marilah kita keluar dari kotak yang ada, pertanyaan yang mendasar bagi kita adalah apakah benar ada cinta sejati itu ? dan kepada siapa seharusnya kita berikan cinta sejati itu ?

Cinta sejati adalah sebuah cinta yang tidak akan pernah mati, dimakan waktu. Oleh sebab itu, tentu saja, dan seharusnya, cinta sejati itu diberikan kepada yang tidak lekang di makan waktu. Dialah yang Maha Kekal, Sang Pencipta Alam semesta. Dan sebagai turunannya, kita seharusnyalah memberikan cinta sejati itu kepada orang-orang terdekat kita, yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kita cintai, seperti orang tua kita, istri kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan umat manusia pada umumnya.

Jadi inilah akhir dari Maze tersebut, sehingga seluruh pembenaran-pembenaran menjadi runtuh dan semua menghadapkan mukanya ke hadapan Allah SWT.

Gempa bisa terjadi dimana saja, dan kapan saja. Karena bumi yang kita pijak ini sebenarnya seperti makhluk hidup yang bergerak meski pelan namun pasti. Sehingga getaran bumi atau yang sering disebut gempa, akibat benturan pergeseran, baik itu vertikal, maupun horizontal, akan selalu terjadi, sekali lagi, tanpa bisa diduga-duga.

Oleh sebab itu sudah sewajarnyalah, manusia dan seluruh makhluk hidup yang tinggal di atas bumi, selalu waspada akan bencana gempa tersebut. Waspada bukan berarti paranoid, namun selalu menyiapkan diri sebaik-baiknya akan terjadinya bencana alam, yang tidak disangka-sangka.

Manusia dibekali dengan pikiran dan daya kreasi, seharusnya bisa secara canggih membuat teknologi yang bisa mengantisipasi terjadinya gempa baik secara preventive maupun curative. Namun demikian tetap saja, kunci dari semua itu ada di tangan Yang Maha Kuasa.

Terkadang manusia sedemikian egoisnya sehingga merasa dunia ini adalah tempat yang aman baginya, sebenarnya tidaklah demikian. Dalam dunia psikologi, jika manusia sudah merasa aman, maka seluruh potensinya akan tertutup. Manusia harus selalu diletakkan di sudut, di pojok, dan dihempaskan habis-habisan, sehingga seluruh potensinya akan keluar untuk mempertahankan diri.

Terus terang, korupsi di Indonesia sudah sedemikian menjamur dan susah untuk diberantas. Dengan munculnya gempa silih berganti, maka Indonesia akan sibuk untuk mencari cara mengatasi dampak gempa tersebut. Yang jelas Jakarta belum kena dampak gempa, namun jika gempa itu sudah menyerang Jakarta, sungguh tidak terbayangkan dampaknya terhadap Indonesia

Apakah manusia-manusia Indonesia sadar akan arti peringatan dari Yang Maha Kuasa tersebut, atau masih sibuk memperkaya diri sendiri yang akhirnya akan ditenggelamkan bersama gempa sebagaimana yang terjadi pada Karun. Renungkanlah…

Mengapa saya berharap, Dewi Sinta adalah istri Rahwana, bukan istri Sri Rama ? Adalah naif kalau menurut saya, peperangan antara 2 Negara Besar, yang melibatkan 3 (tiga) jenis makhluk yaitu Manusia, Jin Raksana dan Manusia setengah kera, hanya disebabkan perebutan Dewi Sinta. Begitu cantik-kah Dewi Sinta sehingga harus diperebutkan dengan sedemikian dahsyatnya ? Atau ada faktor-faktor lain yang membuat peperangan itu terjadi.

Jika kita menelusuri apa yang ada di dalam pikiran Sugriwa, Raja Manusia Kera yang membantu Sri Rama untuk berperang, maka jelas motivasinya adalah membalas budi Sri Rama yang telah membantunya mengembalikan dirinya menjadi Raja kerajaan Manusia Kera, setelah membunuh kakaknya yang selama ini merebut tahta dari tangannnya.

Jika kita menelusuri pula apa yang ada di dalam pikiran Rahwana, Raja Jin Raksasa, mengapa berperang dengan Sri Rama, adalah ia tahu bahwa Sri Rama adalah titisan Dewa Wisnu, dan ia selama ini sangat mendambakan untuk bisa menaklukan para Dewa yang selama ini tidak bisa ia sentuh. Dalam benaknya, jika Sri Rama bisa dikalahkan, maka dewa-dewa yang lain akan semakin mudah ia kalahkan. Sedangkan alasan dia menculik Dewi Sinta, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memancing kemarahan Sri Rama, sehingga mau mengangkat senjata melawannya, dan dengan agresif menyerbu kerajaannya. Mengapa ia memancing Sri Rama agar menyerang kerajaannya, alasannya, tidak lain dan tidak bukan adalah, agar ia punya alasan yang kuat untuk mengerahkan seluruh kekuatan angkatan perangnya guna mengalahkan Sri Rama, dengan dalih mempertahankan diri. Sangat sulit bagi Rahwana untuk mempengaruhi para Tetua Kerajaan untuk menyerang Sri Rama, karena Sri Rama bukanlah musuh. Tapi ambisi Rahwana untuk memperluas kerajaannya sampai ke dunia Dewa, sudah tidak terbendung lagi.

Sedangkan apa motivasi Sri Rama untuk menyerang Rahwana. Sri Rama sangat mencintai istrinya, itu sudah pasti, namun tentu saja itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa dia menyerang Rahwana. Sudah dari awal ketika ia menerima penugasan untuk turun ke dunia, ia sudah tahu bahwa ambisi Rahwana harus dihentikan, karena sangat membahayakan dunia para Dewa. Dan cara menghabisi Rahwana adalah dengan menyerangnya secara langsung di pusat kerajaannya, sebelum ia menyerang ke dunia para Dewa.

Maka dengan kejadian penculikan tersebut, ia-pun mengumpulkan segenap daya upaya untuk menghancurkan Rahwana, termasuk dengan bekerjasama Kerajaan Manusia Kera yang telah dibantunya itu.

Tidak dinyana, tidak diduga, manusia kera yang lebih kecil dari ukuran manusia biasa itu, mampu mengalahkan Jin Raksasa yang sakti mandraguna. Jadi bukan ukuran dan jumlah yang menentukan, tapi kebenaran, dimanapun itu, pasti akan mencapai kemenangan.

Meskipun Sri Rama sendiri yang membunuh Rahwana, tapi kembali lagi, Sri Rama bukanlah penentu kemenangan, bahkan penentuk kemenangan yang lebih tepat adalah para Ksatria Manusia Kera itu, yang terus-menerus, tanpa lelah, secara bergelombang, menyerang ibu kota Kerajaan Jin Raksasa tersebut.

Demikianlah Dewi Sinta, kecantikannya, telah memicu sebuah pertempuran besar, antara 3 Bangsa, antara 3 Kerajaan, antara Kebenaran dan Kebathilan. Persis seperti ceritan Romans of Three Kingdoms. Apakah ada kesamaan, wallohu a’lam. Jadi siapa sebenarnya yang layak menjadi suami Dewi Sinta ?

Tadi pagi istri saya agak sedikit terkejut, ketika saya membawa buku komik anak saya yang berjudul Ramayana.

Ramayana dan Mahabarata, adalah dua kisah yang sangat saya sukai, setelah Al-Qur’an serta Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian baru, semuanya Alhamdulillah sudah pernah saya baca dengan baik.

Dari semua tokoh di Mahabarata dan Ramayana, tokoh favorit saya adalah Krisna di Mahabarata dan Sri Rama sendiri di Ramayana, kebetulan keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama titisan dari Dewa Wisnu, yang menurut kepercayaan Agama Hindu, adalah yang memelihara.

Krisna dalam Mahabarata, berperan sebagai tokoh sentral, meskipun di balik layar. Sedangkan Sri Rama di Ramayana, merupakan tokoh utama yang langsung berperan melawan Rahwana.

Kedua kisah tersebut memiliki kesamaan, yaitu pertempuran antara Kebenaran dan Kebathilan (sampai saat ini saya belum menemukan padanan kata yang tepat untuk kebathilan). Dalam Kisah Mahabarata, kebenaran berpihak pada Pandawa yang meskipun juga memiliki beberapa kelemahan namun tetap diresmikan sebagai pihak yang benar, sedangkan kebathilan dimanifestasikan pada Kurawa yang meskipun sebenarnya ada beberapa titik kebenaran berupa pembelaan kepada Negara/Kerajaannya yang diserang oleh Pendawa. Dalam Kisah Ramayana, tentu saja kebenaran berpihak pada Sri Rama dan kebathilan berpihak pada Rahwana yang telah merebut Dewi Sinta dari tangan Sri Rama.

Kresna dalam kisah Mahabarata, digambarkan benar-benar sangat mengagumkan, hampir tanpa cacat. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya digambarkan memiliki beberapa kelemahan, dan semuanya disempurnakan atau ditutupi oleh nasehat dan bimbingan dari Krisna. Kita juga pernah membaca dan ingat, bagaimana Arjuna, sang Ksatria andalan Pendawa tanpa tanding, yang mampu meluncurkan ribuan anak panah sekaligus, bimbang pada saat-saat detik-detik terakhir peperangan Barata Yudha dimulai. Krisna-lah yang dengan gigih menguatkan kembali motivasi dari Arjuna, sehingga Arjuna tidak gentar melepaskan Anak panahnya, sebagai modal utama kemenangan Pendawa dalam Barata Yudha.

Tidak demikian sebenarnya dengan Krisna, Krisna juga punya kelemahan, dan kelemahan itu hampir mirip dengan kelemahan saya, yaitu jangan sampai Krisna timbul kemarahannya. Karena jika Krisna marah, maka ia akan berubah menjadi Raksasa dan memiliki senjata sakti bernama Cakra, yang jika sudah diluncurkan tidak akan bisa ditarik kembali dan akan membawa kehancuran di alam semesta. Perlu beberapa Dewa yang khusus diturunkan untuk meredamkan kemarahan Krisna yang sudah jadi raksasa itu. Karena jika Krisna yang mengobrak-abrik Kurawa, tidak akan ada Barata Yudha, tidak akan ada kisah-kisah kepahlawanan para Ksatria yang gugur di Barata Yudha, karena dengan Krisna sendiri saja, Kurawa sudah pasti akan kalah. Takdir tidak akan bisa diubah, Barata Yudha harus terjadi, beberapa nyawa para Ksatria harus menjadi tumbal, dan kebenaran pasti akan mencapai kemenangannya dengan proses yang tidak-lah mudah, semudah Krisna menghancurkan sendirian bala tentara Kurawa.

Demikian juga dengan cerita Ramayana, meskipun kesaktian Sri Rama tidak akan dapat ditandingi oleh Rahwana dan pasukannya, namun tetap Peperangan antar para Ksatria   harus tetap terjadi, dengan menumpahkan darah, untuk mencapai kemenangan. Dan pada akhirnya Sri Rama bertemu langsung dengan Rahwana, dan membunuhnya dengan penuh kehormatan.

Apa sebenarnya pelajaran moral yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Pertama, segala sesuatu yang ingin dicapai, baik di dunia ini, maupun di akhirat kelak, sebagai sebuah kebahagiaan yang abadi, tetap membutuhkan proses, membutuhkan ketekunan, membutuhkan pengorbanan air mata bahkan darah, dan membutuhkan bimbingan dari Yang Maha Kuasa. Tiada yang terjadi tanpa semua itu, kalaupun ada yang terjadi tanpa semua itu, maka biasanya itu hanyalah semu dan tidak bertahan lama. Kedua, kebenaran pasti akan menang, kebenaran pasti akan terungkap, dan kebathilan pasti akan hancur. Pasukan kebenaran, sebagai perpanjangan tangan dari Yang Maha Kuasa, harus berani dan terus manju untuk mengalahkan kebenaran.

‘Di akhir Ramadhan, kita selalu berhadapan dengan berbagai pilihan. Jauh di dalam hati, kita ingin Ramadhan tidak cepat pergi, namun nafsu kita menginginkan lain. Sebuah pertarungan antara sisi baik diri kita dengan sisi nafsu yang selalu menginginkan untuk mengecap kenikmatan dunia”

Di ujung jalan, berdiri seorang laki-laki, panggil saja tanpa nama. Ia menatapi pidaran-pidaran cahaya mobil yang lalu-lalang di depannya, silih berganti laksana lampu hias di atas diskotik yang biasa dilaluinya.

Kepalanya serasa pecah. Sudah lama ia merasakan tekanan batin yang berat dalam menjalani hidupnya. Tidak ada yang kurang darinya. Ketampanan, kepintaran, kekayaan, wanita, semua ada di genggamannya. Tapi tetap tubuhnya yang dibungkus baju yang mahal dan mewah itu, tidak mampu menyembunyikan dentuman suara hatinya yang nyaring berbunyi memanggilnya untuk kembali.

Ia tidak muda lagi, bahkan seringkali ia tersenyum sinis jika ada yang memanggilnya anak muda. Hanya dandanan dan gaya yang dipakainya, seringkali bisa mengelabui manusia lain sehingga menganggapnya masih muda.

Sesekali kerjapan ingatannya muncul tentang seorang temannya, ketika dulu masih sama-sama kuliah di Jepang. Temannya itu seorang mahasiwa biasa, tapi pengetahuan agamanya luas. Temannya sering memintanya untuk melaksanakan shalat, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak kecil. Sampai suatu saat ketika ia pamitan untuk kembali ke Indonesia, temannya itu membekalinya dengan sebuah sajadah kecil, shalatlah – bisiknya karena itulah yang kau cari selama ini.

Ia menggeleng, meski tetap memeluk temannya itu hangat, karena dialah yang selama ini menjadi curahan hatinya dan mendampinginya di tengah kehidupan kota Tokyo yang semua ada.

Malam ini, sengaja ia turun dari mobilnya. Berjalan di sebuah jalan yang sepi dan sunyi sendiri, merenung dan meresapi, suara-suara hati yang selalu nyaring memanggilnya tanpa henti. Sudah lama ia berjalan, tapi rasa lelah belum juga hinggap di tubuhnya.

Pertanyaan-pertanyaan berputar-putar di atas kepalanya, tangannya berkali-kali menyulut rokok dan membuangnya ketika belum separuh habis. Matanya liar menatap kegelapan malam, membungkam pikirannya yang selama ini terbius oleh dunia.

Sampai di ujung jalan, ia bertemu dengan sebuah rumah yang tidak bisa dikatakan rumah. Hanya diterangi oleh bola lampu sederhana di dalam rumah. Terdengar suara laki-laki sedang mengaji ditimpali suara anak-anak kecil yang riuh menirukan suara bapaknya mengaji. Sementara di bagian belakang, terdengar suara seseorang sedang menggoreng sesuatu.

Ia terdiam di depan rumah itu, terdiam meresapi suara-suara indah dari dalam rumah yang sederhana itu. Sampai kehadirannya disadari oleh laki-laki di dalam rumah itu. Ia bergegas akan pergi, tapi ia dipanggil oleh laki-laki itu, menanyakan keperluannya. Ia hanya menggeleng. Tapi laki-laki itu memaksa bertanya, sampai ia menjawab, aku mencari kebahagiaan.

Laki-laki pemilik rumah itu tidak mengerti, ia-pun dipersilahkan masuk dan duduk. Entah kenapa ia menurut. Di dalam rumah ia melihat anak-anak kecil sedang tekun memegang Al-Qur’an dan membacanya dengan terbata-bata. Ia tercenung, ia gugup, karena ia tidak bisa membaca kitab suci tersebut.

Laki-laki pemilik rumah itu keluar dan membawa berbagai makanan yang sederhana. Bukan berbagai sebenarnya, karena cuma nasi, telor dadar, sambal dan lalap, lalu mempersilahkannya makan bersama. Anak-anak kecil yang sedang mengaji itu melirik ingin, tapi laki-laki pemilik rumah menatapnya tajam, nanti masih ada tamu, katanya.

Ia memakan dengan lahap, tidak ada yang tersisa yang ada di depannya, karena ia memang lapar. Anak-anak kecil yang sedang mengaji itu tertunduk lesu. Laki-laki pemilik rumah kembali menatap tajam, jangan memalukan, masih ada tamu.

Ia menawarkan rokok ke laki-laki pemilik rumah itu, tapi dengan sopan menolak. Ia pun urung merokok. Ia menatap ke wajah-wajah yang ada di depannya. Sontak ia merasa ta’jub sekaligus iri. Di wajah-wajah itu ada kebahagiaan, sesuatu yang selama ini ia cari. Kemudian ia putuskan untuk berpamitan. Laki-laki pemilik rumah itu mempersilahkannya dengan sopan. Diselipkannya beberapa lembaran raturan ribu ke laki-laki pemilik rumah itu, tapi dikembalikan lagi dengan sopan, tidak usah Pak, kami ikhlas kok.

Ikhlas.. ikhlas… kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya. Ikhlas..ikhlas… ia tanamkan kata-kata itu di dalam hatinya yang paling dalam.

Setahun kemudian, di tanah tempat rumah sederhana laki-laki pemilik rumah itu, berdirilah pusat kegiatan da’wah, yang mengajari dan membimbing orang-orang seperti dia untuk bisa ikhlas… dengan guru besar, laki-laki pemilik rumah itu.

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan betapa berharganya Ramadhan bagi seorang mu’min, lebih berharga daripada dunia dan seisinya.

Setiap memasuki bulan Ramadhan, saya selalu merasa belum siap 100%. Seperti pada saat berangkat haji juga, sampai detik-detik keberangkatan, saya juga masih belum 100% siap. Hanya saja di setiap kondisi seperti itu, saya selalu berdo’a ”Ya Allah, bersihkanlah aku – sucikanlah aku, untuk mengabdi kepada-Mu di bulan-Mu yang suci dan mulia ini”

Bukanlah porsi saya untuk menerangkan apa arti kesucian dan kemuliaan bulan Ramadhan ini, karena pasti hal tersebut sudah banyak dijelaskan dan diterangkan oleh penceramah di setiap Masjid. Hanya saja saya ingin menerangkan sebuah kisah, yang bisa menggambarkan betapa dahsyatnya bulan Ramadhan, dan pengaruhnya bagi ummat Islam yang shaum di dalamnya.

Islam memiliki 2 (dua) tempat suci yang diharamkan, yaitu Kota Makkah karena di dalamnya ada Masjidil Haram – kiblat seluruh ummat Islam sedunia, dan Kota Madinah karena di dalamnya ada Masjid Nabawy sekaligus Makam Nabi Muhammad SAW. Disamping itu juga Islam memiliki waktu suci yang didalamnya juga diharamkan, yaitu bulan Ramadhan, yang di dalam bulan tersebut, ummat Islam diharamkan untuk makan, minum dan berhubungan suami istri di siang harinya. Seperti 2 (dua) tempat suci yang diharamkan oleh Allah SWT tersebut, dimana Allah SWT menebarkan rahmat dan keberkahan atas 2 (dua) kota tersebut, Allah SWT juga menebarkan rahmat dan keberkahannya di bulan Ramadhan, bagi ummat Islam SAW di seluruh dunia, tanpa ada batasan tempat, usia, atau tingkatan dalam ber-Islam. Allah SWT membuka pintu ampunan dan rahmat-Nya seluas-luasnya di bulan Ramadhan, sehingga bisa diibaratkan Allah SWT datang mengetuk pintu rumah kita dan memberikan ampunan dan rahmat-Nya kepada kita.

Tersebutlah sebuah kisah, yang tertulis dengan tinta emas di Al-Qur’an, tentang sebuah peperangan yang terjadi di bulan Ramadhan. Peperangan pertama dalam sejarah penyebaran agama Islam. Tentang sebuah peperangan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai furqon, pembeda antara haq dengan bathil, antara yang benar dengan yang salah. Tentang sebuah peperangan yang tidak seimbang baik dari sisi jumlah maupun persenjataan. Dan dengan kuasa Allah SWT, golongan yang kecil dan tidak berdaya itu, mampu memenangkan peperangan. Tentang sebuah peperangan, yang orang-orang mu’min pengikut peperangan tersebut, memperoleh posisi yang mulia di sisi Allah SWT

Awalnya rombongan kafilah kafir Quraisy pergi untuk menjual barang-barang kaum Muhajirin yang ditinggalkan di Makkah ketika hijrah, ummat Islam yang di Madinah berusaha menjebak kafilah tersebut dan mengambil kembali harta mereka. Tapi Allah SWT menghendaki lain. Kafilah Quraisy yang mengetahui akan dijebak mereka meminta bantuan ke Makkah dan dikirimkanlah bala bantuan untuk mengamankan kafilah tersebut. Pada saat bersamaan diturunkanlah ayat yang berisi perintah untuk berperang. Mendapat perintah tersebut, banyak ummat Islam, terutama yang baru beriman merasa keberatan, namun dengan kekuatan keimanan yang terpompa di bulan Ramadhan, perintah itu itupun dilaksanakan dan dituntaskan dengan sempurna. Sehingga pada akhirnya ummat Islam memperoleh kemenangan.

Demikianlah keutamaan bulan Ramadhan, Allah SWT memerikan segala yang kita minta secara langsung di bulan Ramadhan. Jangan sia-siakan.

Saya masih ingat, dan sangat-sangat ingat, pertama bergabung dengan plurk adalah tanggal 6 Januari 2009, kemudian tepat tanggal 7 Juni 2009 saya delete account plurk yang pertama karena sebuah permasalahan. Dan pada tanggal yang sama saya membuat account plurk yang baru dan mengajak join beberapa teman dari account plurk saya yang lama secara selektif untuk menghindari terjadinya permasalahan lagi. Namun ironisnya, tepat tanggal 28 Juli 2009 saya delete account plurk saya lagi karena suatu permasalahan yang hampir sama dengan permasalahan yang pertama. Dan kini saya memiliki sebuah account plurk yang bersifat dummy dengan id yang dari awal sampai saat ini tetap sama yaitu mymonas.

Plurk is a social journal for your life, begitulah tagline dari plurk. Plurk is for fun, itu yang ada di benak saya sejak awal, sesuai dengan apa yang dibilang oleh mentor plurk, enjoying plurk will increase your karma.

Diselingi dengan beberapa pengalaman KOPDAR (Kopi Darat atau pertemuan para Plurker) yang manis dan kemudian berlanjut dengan saling add dengan plurker yang belum jadi friend di plurk, secara keseluruhan memang plurk is fun.

Namun, salah satu kesalahan saya yang paling-paling fatal adalah saya terlalu addict dan bertemu dengan orang-orang yang addict pula. Pertemuan ini bisa menimbulkan 2 (dua) kemungkinan, yaitu saling menyatu atau saling memisahkan.

Kuncinya adalah, jangan-sekali lagi-jangan bertemu dengan plurker yang addict dan posesif, karena addict dan posesif, merupakan kombinasi yang mematikan Jika kita sudah berada di wilayahnya atau dalam konteks plurk adalah di time-line-nya, maka kita harus mengikuti aturannya atau jika tidak kita-akan terkena sanksi darinya berupa unfollow (tidak diikuti thread kita), kick (dikeluarkan) dari friendlist dia dan yang paling berat adalah block (plurker yang diblock tidak akan bisa melihat profile yang mem-block-nya).

Unfollow, kick dari friendlist dan block merupakan perangkat kita sebagai plurker untuk merasa aman dari gangguan para plurker yang ”berbahaya” menurut kita. Tapi seringkali plurker yang addict dan possesif ini, bisa menggunakannya sekaligus, hanya karena mungkin kita salah komen di trhead dia, atau melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat dia tidak aman dan nyaman dalam plurk atau sebab-sebab lain yang terkadang hanya dia sendiri yang tahu. Hal ini menyebabkan plurk is for fun itu menjadi tidak fun lagi.

Tidak ada yang salah memang untuk melakukan 3 aksi tersebut, karena itu hak masing-masing plurker, namun yang salah adalah jika ketiga aksi tersebut, apalagi block, dikombinasikan pula dengan penyebaran informasi yang meskipun samar tapi jelas tentang kelemahan atau aib dari salah satu plurker tersebut. Karena hal tersebut jelas-jelas pembunuhan karakter yang paling mematikan atas plurker tersebut. Tanpa basa-basi maka karir dari plurker tersebut sudah akan tamat di dunia plurk.

Kalau demikian, apakah arti sebuah persahabatan di plurk. Jujur kalau menurut saya, persahabatan di plurk lebih erat daripada persahabatan di dunia nyata. Tapi jangan salah, permusuhan di plurk juga akan lebih keras daripada permusuhan di dunia nyata. Oleh sebab itu, ketika kita memasuki dunia plurk, yang harus disiapkan adalah kebeningan hati sehingga kita bisa melihat dan menilai setiap sahabat kita di plurk dengan lebih obyektif dan berlandaskan keinginan untuk mencari teman, bukan musuh.
Gangguan di plurk pasti dan akan selalu ada, tapi tetap seorang plurker, harus mengutamakan logika dan klarifikasi terlebih dahulu, sehingga diharapkan prinsip plurk is for fun itu akan tetap terjaga di antara semua plurker yang menjadi sahabat kita.

Jadi, sekali lagi, mengulangi paragraf di atas, kuncinya agar kita bisa plurking dengan fun adalah, pandai-pandailah dalam memilih teman. Percaya atau tidak, plurk bagi saya adalah magic (saya ingat membuat trhead ini di awal-awal plurking), karena saya bisa bertemu dengan orang-orang yang belum pernah saya kenal, bahkan tidak terbayangkan untuk saya kenal. Kita bisa membahas satu permasalahan dari berbagai sisi sehingga menjadi lebih lengkap dan komprehensif. Thats magic for me.

Terima kasih kepada teman-teman plurk-ku yang telah selama 7 bulan ini menemaniku, nice to know you all. Thank you, we will see in the real world (dance) (cozy).

Lagu ini adalah lagu pertama yang saya dengar ketika pertama kali berkenalan dengan harakah

Apa yang ada jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan
Nikmat yang dikecap barukan terasa
Bila hilang apa yang diburu timbul rasa jemu
Bila sudah didalam genggaman

Dunia ibarat air laut
Diminum hanya menambah haus
Nafsu bagaikan fatamorgana
Di padang pasir

Panas yang membakar disangka air
Dunia dan nafsu bagai bayang-bayang
Dilihat ada, ditangkap hilang

Tuhan leraikanlah dunia yang mendiam di dalam hatiku
Karena di situ tidak kumampu mengumpul dua cinta
Hanya cinta-Mu kuharap selalu dibajai bangkai dunia yang kubunuh

Waktu masih kecil, saya pernah membaca sebuah cerita yang sangat indah sekali dan masih teringat sampai sekarang. Sebuah cerita yang ingin saya bagi melalui blog ini. Semoga bermanfaat. Read the rest of this entry »

Di suatu masa, di sebuah desa, di pinggiran kompleks perumahan yang elit, di sebuah rumah yang berdinding bambu, hanya seluas kira-kira di bawah 20 meter persegi, tinggallah 4 generasi yang semuanya wanita, mulai dari buyut, nenek, ibu, anak dan cicitnya.

Dari rumah tersebut, kita akan melihat sesuatu yang berbeda dari rumah-rumah lainnya. Sederhana bahkan sangat sederhana,  kalau masalah harta, jelas mereka tidak kaya. Hampir jarang mereka terlihat memasak makanan yang enak seperti yang sering kita makan. Dan yang lebih menarik lagi, tidak ada laki-laki di sana, sehingga praktis yang menjadi tulang punggung keluarga adalah mereka semuanya. Ya, mereka semua bekerja sesuai dengan kemauan dan kemampuan masing-masing untuk mencari nafkah.

Meskipun demikian, kebahagiaan terpancar di sana.  Setiap pagi selalu terdengar canda dan tawa dari rumah itu. Hampir tidak ada pertengkaran, tidak ada caci maki, tidak ada keluh kesah. Mengapa ? karena surga di bawah telapak kaki Ibu.

Dari Ibu-lah kita mengenal kasih sayang untuk pertama kalinya, dari Ibulah kita belajar menjalani hidup ini dengan sabar, dari Ibulah kita memahami dunia dan menerimanya apa adanya. Dari Ibulah kita belajar untuk bekerja keras tanpa pamrih. Dari Ibulah kita belajar memahami diri kita sendiri.

Surga memang selalu berada di bawah telapak kaki Ibu.

In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful.

this is about my thinking, opinion, and ideas

Myarchives