‘Di akhir Ramadhan, kita selalu berhadapan dengan berbagai pilihan. Jauh di dalam hati, kita ingin Ramadhan tidak cepat pergi, namun nafsu kita menginginkan lain. Sebuah pertarungan antara sisi baik diri kita dengan sisi nafsu yang selalu menginginkan untuk mengecap kenikmatan dunia”
Di ujung jalan, berdiri seorang laki-laki, panggil saja tanpa nama. Ia menatapi pidaran-pidaran cahaya mobil yang lalu-lalang di depannya, silih berganti laksana lampu hias di atas diskotik yang biasa dilaluinya.
Kepalanya serasa pecah. Sudah lama ia merasakan tekanan batin yang berat dalam menjalani hidupnya. Tidak ada yang kurang darinya. Ketampanan, kepintaran, kekayaan, wanita, semua ada di genggamannya. Tapi tetap tubuhnya yang dibungkus baju yang mahal dan mewah itu, tidak mampu menyembunyikan dentuman suara hatinya yang nyaring berbunyi memanggilnya untuk kembali.
Ia tidak muda lagi, bahkan seringkali ia tersenyum sinis jika ada yang memanggilnya anak muda. Hanya dandanan dan gaya yang dipakainya, seringkali bisa mengelabui manusia lain sehingga menganggapnya masih muda.
Sesekali kerjapan ingatannya muncul tentang seorang temannya, ketika dulu masih sama-sama kuliah di Jepang. Temannya itu seorang mahasiwa biasa, tapi pengetahuan agamanya luas. Temannya sering memintanya untuk melaksanakan shalat, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak kecil. Sampai suatu saat ketika ia pamitan untuk kembali ke Indonesia, temannya itu membekalinya dengan sebuah sajadah kecil, shalatlah – bisiknya karena itulah yang kau cari selama ini.
Ia menggeleng, meski tetap memeluk temannya itu hangat, karena dialah yang selama ini menjadi curahan hatinya dan mendampinginya di tengah kehidupan kota Tokyo yang semua ada.
Malam ini, sengaja ia turun dari mobilnya. Berjalan di sebuah jalan yang sepi dan sunyi sendiri, merenung dan meresapi, suara-suara hati yang selalu nyaring memanggilnya tanpa henti. Sudah lama ia berjalan, tapi rasa lelah belum juga hinggap di tubuhnya.
Pertanyaan-pertanyaan berputar-putar di atas kepalanya, tangannya berkali-kali menyulut rokok dan membuangnya ketika belum separuh habis. Matanya liar menatap kegelapan malam, membungkam pikirannya yang selama ini terbius oleh dunia.
Sampai di ujung jalan, ia bertemu dengan sebuah rumah yang tidak bisa dikatakan rumah. Hanya diterangi oleh bola lampu sederhana di dalam rumah. Terdengar suara laki-laki sedang mengaji ditimpali suara anak-anak kecil yang riuh menirukan suara bapaknya mengaji. Sementara di bagian belakang, terdengar suara seseorang sedang menggoreng sesuatu.
Ia terdiam di depan rumah itu, terdiam meresapi suara-suara indah dari dalam rumah yang sederhana itu. Sampai kehadirannya disadari oleh laki-laki di dalam rumah itu. Ia bergegas akan pergi, tapi ia dipanggil oleh laki-laki itu, menanyakan keperluannya. Ia hanya menggeleng. Tapi laki-laki itu memaksa bertanya, sampai ia menjawab, aku mencari kebahagiaan.
Laki-laki pemilik rumah itu tidak mengerti, ia-pun dipersilahkan masuk dan duduk. Entah kenapa ia menurut. Di dalam rumah ia melihat anak-anak kecil sedang tekun memegang Al-Qur’an dan membacanya dengan terbata-bata. Ia tercenung, ia gugup, karena ia tidak bisa membaca kitab suci tersebut.
Laki-laki pemilik rumah itu keluar dan membawa berbagai makanan yang sederhana. Bukan berbagai sebenarnya, karena cuma nasi, telor dadar, sambal dan lalap, lalu mempersilahkannya makan bersama. Anak-anak kecil yang sedang mengaji itu melirik ingin, tapi laki-laki pemilik rumah menatapnya tajam, nanti masih ada tamu, katanya.
Ia memakan dengan lahap, tidak ada yang tersisa yang ada di depannya, karena ia memang lapar. Anak-anak kecil yang sedang mengaji itu tertunduk lesu. Laki-laki pemilik rumah kembali menatap tajam, jangan memalukan, masih ada tamu.
Ia menawarkan rokok ke laki-laki pemilik rumah itu, tapi dengan sopan menolak. Ia pun urung merokok. Ia menatap ke wajah-wajah yang ada di depannya. Sontak ia merasa ta’jub sekaligus iri. Di wajah-wajah itu ada kebahagiaan, sesuatu yang selama ini ia cari. Kemudian ia putuskan untuk berpamitan. Laki-laki pemilik rumah itu mempersilahkannya dengan sopan. Diselipkannya beberapa lembaran raturan ribu ke laki-laki pemilik rumah itu, tapi dikembalikan lagi dengan sopan, tidak usah Pak, kami ikhlas kok.
Ikhlas.. ikhlas… kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya. Ikhlas..ikhlas… ia tanamkan kata-kata itu di dalam hatinya yang paling dalam.
Setahun kemudian, di tanah tempat rumah sederhana laki-laki pemilik rumah itu, berdirilah pusat kegiatan da’wah, yang mengajari dan membimbing orang-orang seperti dia untuk bisa ikhlas… dengan guru besar, laki-laki pemilik rumah itu.